Optimis

Optimis adalah sebuah paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari aspek yang baik dan menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Optimis merupakan sikap yang sangat penting dalam kehidupan. Sikap optimis mampu menjadikan seseorang terhindar dari prasangkah buruk. Seseorang yang memiliki sikap optimis cenderung melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sikap optimis menjadikan kita tidak mudah putus asa dan putus harapan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam selalu mencontohkan sikap optimis dalam setiap kondisi yang dihadapi umat muslim pada masa mendakwakan Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Bila hari kiamat tiba dan ditangan seorang dari kalian terdapat tunas pohon kurma, maka tanamlah!” (HR. Ahmad). Dalam Hadist ini Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajak kita untuk selalu optimis, yakin dan konsisten dalam menjalankan amal-amal kebaikan (puasa salah satunya) pada situasi dan kondisi apapun.

Hari kiamat merupakan peristiwa yang telah tertulis jelas dalam Al-Quran, peristiwa yang paling dahsyat yang akan dihadapi oleh manusia di muka bumi. Hari kiamat ditandai dengan hancurnya alam semesta, meletusnya gunung-gunung, planet-planet dalam tata surya saling bertabrakan, dan berterbangannya jasad-jasad manusia yang hidup maupun yang telah mati. Tidak ada hari yang paling kacau dari hari kiamat, dan tidak ada kondisi yang paling buruk dari hari kiamat.

Sebuah pemisalan yang sangat luar biasa dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yaitu, menanam pohon kurma disaat kiamat telah tiba. Pohon kurma membutuhkan waktu selama 4 sampai 7 tahun untuk berbuah, waktu yang sangat lama untuk menikmati hasil dari jerih payah menanam. Bagaimana bisa kita menanam pohon kurma, sementara hari kiamat telah tiba. Kita tidak akan memperoleh apapun dari pohon kurma yang kita tanam. Walaupun keinginan untuk menikmati hasilnya tidak masuk akal kita, tetapi tanamlah agar menjadi harapan bagi kita. Kerena dalam harapan itu tersimpan kebaikan bagi kita, tersimpan pahala niat, juga tertulis pahala ikhtiar.

Meskipun kita 100 persen yakin bahwa tidak akan dapat menikmati buah kurmanya. Meskipun kita yakin bahwa tunas itu akan hancur bersamaan dengan kiamat. Tetapi, itu bukan menjadi urusan kita sebagai manusia. Pokok utamanya adalah ajakan “tanamlah”, karena dengan menanam kita memiliki harapan kepada Allah Subhanahu wata’ala Sang Pemilik kehidupan. Harapan yang kita tanam melalui tunas kurma tersebut menjadikan kita layak menerima kebaikan, karena Allah Subhanahu wata’ala suka kepada hamba yang berharap dan bergantung kepada-Nya. Oleh karena itu, semua harapan bersifat pasti, tidak ada harapan yang tidak pasti. Harapan selalu berbanding lurus dengan kebaikan, jika diniatkan hanya karena Allah Subhanahu wata’ala semata.

Perlu kita merenungi bahwa selama kita hidup di dunia ini tidak akan pernah terlepas dari masalah. Masalah yang kita hadapi tergantung pada fase-fase perjalanan hidup yang kita lalui. Saat kita berada pada fase perjalanan hidup tertentu, kita akan berhadapan dengan sebuah masalah tertentu pula. Ketika masih dibangku sekolah, kita akan menghadapi yang namanya kegagalan dalam ujian sekolah. Ketika beranjak ke pendidikan tinggi, kita akan dihadapkan pada beban tugas kuliah yang berat, kegagalan dalam ujian semester, lika-liku menyelesaikan skripsi, dan lamanya kuliah yang menjadi omongan tetangga. Ketika berada pada fase selesai kuliah, kita akan menghadapi sulitnya memperoleh pekerjaan. Bahkan ketika telah memperoleh pekerjaan, kita akan berada pada kondisi belum menemukan dambaan hati untuk menikah.

Tentu masalah-masalah yang kita hadapi tersebut tidak lebih buruk dari hari kiamat, kondisi yang kita alami tidak lebih kacau dari hari kiamat dan situasi yang kita alami tidak lebih hancur dari hari kiamat. Semua masalah, kondisi dan situasi yang kita alami tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan hari kiamat.

Jangankan masalah, kondisi dan situasi yang kita alami dibandingkan dengan hari kiamat, dibandingkan dengan orang lain pun kita bukanlah orang paling susah di dunia ini. Oleh karena itu, selalu bersikap optimis dalam menghadapi masalah pada kondisi dan situasi apapun. Jika di hadapan yang ada hanya kegelapan, maka melangkahlah dengan cahaya keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’ala.*

Suratman S. Naim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *