Orang-Orang yang Tak Terlihat

Mungkin sebagian orang sudah memahami dirinya. Bagaimana maunya. Seperti apa kebutuhannya. Hal apa yang mesti dilakukan untuk men-treat dirinya. Kebutuhan dan keinginan ini bukan semata ikut kata orang atau trend yang sedang berkembang, namun karena benar-benar mengenal diri sendiri. Sayangnya tak sedikit juga yang bingung dengan dirinya sendiri, tak tahu maunya apa, tak mengerti harus bagaimana. Bahkan bisa sampai memperburuk kondisi karena tidak tahu potensi diri yang sebenarnya.

Hai, kamu yang mungkin merasa berbeda. Merasa tidak seperti kebanyakan orang di luar sana. Yang selalu bertanya, mengapa aku tak seperti mereka? Kok orang-orang bisa ya memiliki energi yang begitu besarnya menghadapi banyak orang, mudah akrab, ceria dan terlihat begitu disukai khalayak. Rasanya ingin menjadi seperti mereka tapi kok berat ya? Seperti orang berpura-pura. Aku yang sebenarnya tetap tenang-tenang saja. Tetap pada mode kalem dan tidak banyak bicara? Kenapa? Haruskah aku berubah?

Sering dibilang nggak asyik karena terlalu pendiam. Dianggap remeh karena tak sering bersuara. Bahkan mungkin tak jarang ditutup ruang untuk sekadar mengutarakan. Tersisi karena berhadapan dengan si dominan. Hingga sering tidak disadari bahwa sebenarnya kamu memiliki daya pikir yang tajam.

Kamu yang lebih menyukai keheningan, tenang, tak ingin berlama-lama di keramaian. Sangat terganggu dengan kebisingan.

Mungkin juga ada yang bingung kenapa perasaannya begitu sensitif. Pikirannya bekerja sangat keras memikirkan hal-hal yang detail. Dikira bengong padahal berbagai macam informasi yang didapatkan menumpuk di pikirannya dan coba dilerai satu per satu. Bahkan informasi sekecil apa pun bisa menjadi sangat berkesan dan mengungkung pikirannya sampai benar-benar merasa puas dan menemukan solusi atau titik terang.

Dianggap aneh karena suka berpergian seorang diri. Nonton ke bioskop, ke tempat makan, jajan, jalan-jalan, ke perpustakaan, ke toko buku dan banyak hal lainnya yang semua bisa dilakukan sendiri tanpa harus menunggu siapa yang bisa diajak menemani. Karena kamu tidak suka hubungan yang seperti itu, yang hanya “sekadar menemani”.

Mungkin kamu tak begitu pandai berinteraksi dengan banyak orang, tak nyaman saat menjadi pusat perhatian, tak suka berbasa-basi di hadapan khalayak ramai, namun tak banyak orang tahu kau lebih mencintai hubungan personal yang mendalam. Hubungan yang berumur panjang dan tetap hangat meski bertahun lamanya tak saling pandang. Yang kepadanya kau akan tampak terbuka dan ceria. Tak perlu banyak orang, cukup beberapa yang “mengikat” dan terpenuhi kebutuhan jiwa.

Sendiri bukan berarti sepi. Tak beramai-ramai bukan berarti mati.

Tak perlu berkecil hati saat merasa berbeda. Karena memang dari penciptaannya pun sudah berbeda. Fisiologis otak antara si introvert dan ekstrovert memang berbeda. Debra Johnson, seorang dokter Amerika, menunjukkan bahwa aliran darah yang menuju ke otak antara si intovert dan ekstrovert memiliki jalur-jalur yang berbeda. Inilah yang menyebabkan perbedaan perilaku antara keduanya.

Selain kalah jumlah yang hanya sekitar 30% dari populasi manusia di dunia. Introvert lebih suka berada dalam kedamaian yang tenang, tanpa gangguan, tanpa kebisingan dari pihak luar. Memilih ruang-ruang yang jauh dari sorot mata orang-orang. Kalaupun terpaksa karena keadaan yang mengharuskan berada di ruang publik, ia akan kembali ke ruang privatnya untuk mengisi energi. Lantas apakah si introvert tak bisa menduduki peran-peran publik? Bisa. Sangat bisa. Asal ia tahu dan sadar apa yang harus dilakukan. Bukan hanya melakukan peran publiknya dengan baik tapi juga sadar cara memperlakukan dirinya sendiri.

Berada di ruang-ruang yang tak terlihat banyak orang bukan berarti tak bisa menjadi luar biasa. Karena kamu tetaplah istimewa dengan potensi yang kau punya. Tetap menjadi diri sendiri. Lakukan apa yang kau sukai.

World Introvert Day
2 Januari 2023

Yuyun WJ

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *