Mahluk Emosional

Kita bisa saja mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berlogika. Tapi kita pasti tahu bahwa manusia memiliki kecenderungan menonjolkan emosi dan perasaannya dari pada logikanya. Kita bisa saja mengkritik teman, kolega, bahkan saudara kita dengan keras untuk menyadarkannya dari kesalahan atau perbuatan yang kurang baik. Kalau dia memang mahluk yang berlogika seharusnya itu membuatnya sadar. Tapi kita sering lupa bahwa dia adalah mahluk emosional. Perasaanya lebih perlu dipahami daripada kritik keras kita.

Dale Carnegie, mengatakan dalam bukunya How to Win Friends & Influence People, “Kritik itu sia-sia, karena menempatkan seseorang di posisi mempertahankan diri dan biasanya membuatnya berusaha membenarkan dirinya sendiri. Kritik itu berbahaya, karena melukai harga diri seseorang yang berharga, melukai perasaan penting yang dimilikinya, dan membangkitkan dendam.” Di sini Dale tidak melarang kita untuk mengkritik, tapi dia hanya berusaha memahami dan menempatkan dirinya jika menjadi seorang yang di kritik.

Manusia memanglah mahluk sosial, namun dalam interaksi dengan sesamanya justru lebih sering melibatkan sisi emosionalnya dari pada sisi sosialnya. Ini sangat penting untuk diperhatikan. Bijaklah dalam berkomunikasi dengan sesama. Terlebih, seperti yang di katakan Viki Adi N dalam tulisan yang berjudul Memberi Nasihat juga Harus Hati-Hati, memberi nasihat dengan niat baik pun kalo kalimat dan momennya kurang pas justru akan membuat keadaan tidak lebih baik. Apalagi kalau kita mengkritik mungkin akan memperparah keadaan.

Kita mungkin sering mendengar perkataan baginda Nabi Saw 1400 tahun lalu, “berkatalah yang baik atau diam”. Sabda beliau ini tentu harus terus kita ingat dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa? karena di dalamnya terdapat banyak mengandung ilmu. Berkata baik ada ilmunya. Sebaliknya diam pun juga ada ilmunya. Maka pintar-pintarlah menempatkan diri kita diantara dua hal ini.

Memberi kritik itu boleh-boleh saja, asalkan kritik itu tepat pada apa yang ingin anda sampaikan. Tapi saran saya pikirkan kembali jika anda ingin mengkritik teman, saudara, sahabat, karyawan atau bahkan atasan anda ketika dia melakukan kesalahan. Bertanyalah kepada diri anda sendiri, “apakah dengan saya mengkritik dia, dia akan mengakui kesalahannya dan menjadi lebih baik?”. Tentu jawabannya kembali ke paragraf pertama apakah dia manusia yang menonjolkan logikanya atau justru manusia yang lebih mengedepankan perasaan dan harga dirinya. []

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *